PERKEMBANGAN MASA LANJUT USIA

PERKEMBANGAN MASA LANJUT USIA

Materi Kuliah Psikologi Perkembangan II

Oleh Dosen Bu Elok


Perkembangan Fisik Masa Lanjut Usia

Perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut, membawa penurunan fisik yang lebih besar dibandingkan dengan periode periode usia sebelumnya.  Rentetan perubahan perubahan dalam penurunan fisik yang terkait dengan penuaan, dengan penekanan pentingnya perkembangan perkembangan baru dalam penelitian proses penuaan yang mencatat bahwa kekuatan tubuh perlahan lahan menurun dan hilangnya fungsi tubuh kadangkala dapat diperbaiki.

Hal inilah yang biasanya terjadi pada usia dewasa lanjut dan berikut adalah beberapa penurunan dan hilangnya fungsi tubuh dalam hal fisiologis masa perkembangan masa dewasa akhir atau usia lanjut:

1. Otak dan sistem syaraf

Saat individu beranjak tua maka akan kehilangan sejumlah neuron, unit unit sel dasar dari sistem syaraf. Beberapa peneliti memperkirakan kehilangan itu mungkin sampai 50% selama tahun tahun dewasa. Walaupun penelitian lain percaya bahwa kehilangan itu lebih sedikit dan bahwa penyelidikan yang tepat terhadap penyelidikan hilangnya neuron belum dibuat di dalam otak.

Barangkali penyelidikan yang lebih masuk akal adalah bahwa 5 sampai 10 persen dari neuron kita akan berhenti tumbuh sampai kita mencapai usia 70 tahun. Setelah itu, hilangnya neuron akan lebih cepat.

Aspek yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa neuron neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri. Meskipun demikian otak dapat cepat sembuh dan memperbaiki kemampuannya, hanya kehilangan sebagian kecil dari kemampuannya untuk bisa berfungsi di masa dewasa akhir.

 

2. Perkembangan Sensori

Perubahan sensori fisik masa dewasa akhir melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasa, pembau, dan indera peraba. Pada masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap lebih menjadi lambat, yang berarti bahwa orang rang lanjut usia membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari ruangan yang terang menuju ke tempat yang agak gelap.

Penurunan penglihatn ini biasanya dapat dirunut dari pengurangan kualitas dan intensitas cahaya yang mencapai retina. Di puncak usia tua, perubahan ini mungkin disertai oleh perubahan perubahan kemunduran dalam retina, menyebabkan beberapa kesulitan dalam penglihatan.

Meskipun pendengaran dapat mulai pada masa dewasa tengah, hal itu biasanya tidak banyak membawa kesulitan sampai masa dewasa akhir. Pada saat itu banyak sekali alat bantu pendengaran yang bisa dipakai untuk bantuan pendengaran. Tuli, biasanya disebabkan oleh kemunduran selaput telinga, syaraf penerima penerima suara didalam telinga.

Selain berukurangnya penglihatan dan pendengaran juga mengalami penurunan dalam kepekaan rasa dan bau. Kepekaan terhadap rasa pahit dan masam bertahan lebih lama dibandingkan dengan rasa manis dan asin.

3. Sistem peredaran darah

Tidak lama berselang terjadi penurunan jumlah darah yang dipompa oleh jantung dengan seiringnya pertambahan usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat. Bagaimanapun, kita mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul, jumlah darah yang dipompa sama tanpa mempertimbangakan usia pada masa dewasa. Kenyataannya para ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang sehat dapat menjadi lebih kuat selama kita menua dengan kapasitas meningkat bukan menurun.

4. Sistem pernafasan

Kapasitas akan menurun pada usia 20 hingga 80 tahun sekalipun tanpa penyakit. Paru paru kehilangan elatisitasnya, dada menyusut, dan diafragma melemah. Meskipun begitu berita baiknya adalah bahwa orang dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru paru dengan latihan latihan memperkuat diafragma.

5. Seksualitas
Penuaan menyebabkan beberapa perubahan penurunan dalam hal seksualitas manusia, lebih banyak pada laki laki dari pada perempua. Orgasme menjadi lebih jarang pada laki laki, terjadi dalam setiap 2 sampai 3 kali hubungan seksual bukan setiap kali. Rangsangan yang lebih langsung biasanya dibutuhkan untuk ereksi. Sekalipun hubungan seksual terganggu oleh kelemahan, relasi lainnya harus dipertahankan, diantara kedekatan sensualitas, dan nilai sebagai seorang laki laki maupun wanita.

Teori Proses Menjadi Tua

Penuaan  merupakan proses dediffensiasi (de-growth) dari sel, yaitu proses terjadinya perubahan anatomi maupun penurunan fungsi dari sel.  Ada banyak teori yang menjelaskan masalah penuaan,antara lain :

1. Teori Radikal Bebas (Free Radical Theory)

Menurut teori ini sel-sel dalam tubuh dirusak oleh serangan yang terus menerus dari partikel kimia oksigen radikal bebas, yaitu Molekul Oksigen yang memiliki 1 (satu) atau lebih elektron, yang tidak  berpasangan, sehingga sangat radikal dan reaktif. Akibatnya sel-sel menjadi rusak sehingga jaringan pembentuk organ pun menjadi rusak, dan dari situlah bermunculan bermacam macam penyakit, akibat kemunduran fungsi organ yang dikenal dengan penyakit Degeneratif. Adapun sumber radikal bebas dari faktor Internal atau bersumber dari dalam diri individu sendiri antara lain: Stress, depresi, demas, radang dan luka, lelah berlebihan kerja dan olah raga yang berlebihan dan juga metabolisme normal dalam tubuh. Sedangkan faktor external radikal bebas antara lain: Polusi baik dari asap pabrik atau rokok yang dihirup, juga dari obat-obatan, kemoterapi,  pestisida, insextisida, herbisida,  makanan, Sinar-X  atau rontgen, bakteri, virus dll. Akibat serangan dari radikal bebas ini menyebabkaan berbagai penyakit antara lain:  Diabetes, stroke, gagal ginjal, rematik, kanker, sakit jantung, problema kulit, Dan masih   banyak yang lainya

2.  Teori  Pakai dan Rusak (Wear and Tear Theory)

Menurut teori ini tubuh dan sel-selnya akan rusak karena banyak terpakai dan digunakan secara terus menerus dan berlebihan sepanjang hidup akan mengakibatkan tubuh menjadi lemah dan akan mengalami kerusakan dan akhirnya meninggal. Organ tubuh antara lain hati, ginjal, lambung, kulit akan menurun fungsinya karena toxin di dalam makanan dan lingkungan   yang dihadapi setiap hari.

3. Teori Neuroendokrin

Teori ini menjelaskan tentang  “Kerusakan Akibat Pemakaian” dengan berfokus pada sistem neuroendokrin, jaringan biokimia rumit yang mengatur pelepasan hormon dan elemen-elemen vital tubuh lainnya. Ketika muda, hormon–hormon  bekerja bersama-sama untuk mengatur berbagai fungsi-fungsi tubuh, termasuk respon manusia terhadap panas, dingin dan aktifitas seksual kita. Kelenjar sebesar kacang kenari ini terletak dalam otak dan bertanggung jawab untuk reaksi berantai hormonal kompleks yang dikenal dengan nama lain “thermostat tubuh”. Hormon penting fungsinya untuk memperbaiki dan mengatur fungsi-fungsi tubuh. Sejalan dengan bertambahnya usia, tubuh memproduksi hormon-hormon dalam kadar yang lebih rendah dan dapat menyebabkan efek berbahaya, termasuk penurunan kemampuannya dalam memperbaiki tubuh dan mengatur tubuh. Produksi hormon sangat interaktif, produksi satu tetes hormon apapun akan mempengaruhi mekanisme secara keseluruhan, contohnya; menyampaikan sinyal pada organ-organ lain untuk melepaskan hormon lainnya dalam kadar yang lebih rendah sehingga bagian-bagian tubuh lainnya juga akan mengeluarkan hormon dalam kadar yang lebih rendah.

4. Teori Control Genetic

Teori penuaan-terencana berpusat pada program genetik sesuai DNA masing-masing individu. Manusia dilahirkan dengan kode genetik yang unik, sebuah kecendrungan tipe fisik dan fungsi mental yang telah ditentukan sebelumnya. Warisan genetik tersebut sangat menentukan seberapa cepat dan seberapa panjang   hidup. Jika menggunakan gambaran kasar, dapat dibayangkan setiap manusia hadir di muka bumi bagaikan sebuah mesin yang sudah terprogram untuk menghancurkan dirinya sendiri. Semua orang memiliki jam biologis yang terus berdetak dan bisa berhenti kapan saja, lebih cepat atau lebih lama beberapa tahun. Ketika jam berhenti berdetak, itu merupakan pertanda bahwa tubuh  mulai menua dan akhirnya akan mati.  Sesuai dengan segala aspek warisan genetik , waktu yang berlaku pada jam genetik ini bervariasi, tergantung apa yang dialami selama pertumbuhan dan bagaimana gaya hidup masing- masing individu.

 

Perkembangan Kognitif Lansia

Issue mengenai penurunan intelektual selama tahun-tahun masa dewasa merupakan suatu hal yang provokatif (Santrock, 2004).  David Wechsler (1972), yang mengembangkan skala inteligensi, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual, karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang. Sementara, John Horn (1980) berpendapat bahwa beberapa kemampuan memang menurun, sementara kemampuan lainnya tidak. Horn menyatakan bahwa kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelligence=yaitu sekumpulan informasi dan kemampuan-kemampuan verbal yang dimiliki individu) meningkat, seiring dengan peningkatan usia. Sedangkan kecerdasan yang mengalir (fluid intelligence=yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir abstrak) menurun secara pasti sejak masa dewasa madya.

Pendapat tersebut dipertanyakan Paul Baltes (1987) dan K Warner Schaie (1984), karena metode yang digunakan Horn adalah cross-sectional, sehingga factor individual differences, seperti perbedaan kohort, tidak diperhatikan, padahal mungkin akan sangat berpengaruh, sehingga kalau pun ditemukan perbedaan antara subjek yang berusia 40 tahun dengan subjek yang berusia 70 tahun, mungkin bukan karena factor usia, melainkan kesempatan memperolah pendidikan, misalnya.

Schaie sendiri mengadakan penelitian longitudinal tentang hal tersebut (1984), dan memperoleh hasil bahwa ternyata tidak ditemukan penurunan intelektual pada masa dewasa, setidaknya sampai usia 70 tahun. Pada tahun 1994, Schaie kembali mengadakan penelitian dan menemukan bahwa penurunan di dalam kemampuan-kemampuan mental rata-rata dimulai pada usia 74 tahun.

Kecepatan memproses, mengingat, dan memecahkan masalah

Dari banyak penelitian (Baltes, Smith & Staudinger, in press;; Dobson, dkk, 1993; Salthouse,1992, 1993, in press; Salthouse & Coon, 1993; Sternbern & McGrane, 1993), diterima secara luas bahwa kecepatan memproses informasi mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Penelitian lain membuktikan bahwa orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya.

Kecepatan memproses informasi secara pelan-pelan memang akan mengalami penurunan pada masa dewasa akhir, namun factor individual differences juga berperan dalam hal ini. Nancy Denney (1986) menyatakan bahwa kebanyakan tes kemampuan mengingat dan memecahkan masalah mengukur bagaimana orang-orang dewasa lanjut melakukan aktivitas-aktivitas yang abstrak atau sederhana. Denney menemukan bahwa kecakapan untuk menyelesaikan problem-problem praktis, sebenarnya justru meningkat pada usia 40-an dan 50-an. Pada penelitian lain Denney juga menemukan bahwa individu pada usia 70-an tidak lebih buruk dalam pemecehan masalah-masalah praktis bila dibandingkan mereka yang berusia 20-an.

Pendidikan, Pekerjaan, dan Kesehatan Pada Dewasa Lanjut

Pendidikan, pekerjaan dan kesehatan adalah 3 komponen penting yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif individu berusia lanjut. Ketiga komponen ini juga merupakan factor-faktor yang sangat penting untuk memahami mengapa pengaruh kohort (kelompok umur) perlu dimasukkan dalam laporan ketika mempelajari fungsi kognitif dari orang-orang dewasa lanjut.

1. Pendidikan

Fasilitas pendidikan, semakin tahun memang semakin meningkat, sehingga generasi sekarang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Pengalaman-pengalaman di dunia pendidikan, ternyata berkorelasi positif dengan hasil skor pad tes-tes inteligensi dan tugas-tugas pengolahan informasi (ingatan) (Verhaegen, Marcoen & Goossens, 1993).

Dinegara-negara maju, beberapa lansia masih berusaha untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Alasan-alasan yang dikemukakan antara lain: 1) ingin memahami sifat dasar penuaan yang dialaminya. 2) ingin mempelajari perubahan social dan teknologi yang dirasakan mempengaruhi kehidupannya. 3) ingin menemukan pengetahuan yang relevan dan mempelajari ketrampilan-ketrampilan yang relevan untuk mengantisipasi permintaan-permintaan masyarakat dan tuntutan pekerjaan, agar tetap dapat berkarier secara optimal dan mampu bersaing dengan generasi sesudahnya. 4) ingin mengisi waktu luang agar lebih bermanfaat, serta sebagai bekal untuk mengadakan penyesuaian diri dengan lebih baik pada masa pensiunnya.

2. Pekerjaan

Searah dengan kemajuan teknologi biasanya orang-orang dewasa lanjut, sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, cenderung bekerja dengan jenis pekerjaan yang belum mengarah ke orientasi kognitif, seperti generasi sesudahnya. Hal ini mengakibatkan banyak tenaga dewasa lanjut yang “harus” tersingkir dari dunia kerja karena tidak mampu lagi bersaing dengan generasi yang berikutnya.

3. Kesehatan

Tidak bisa dipungkiri bahwa fasilitas kesehatan sekarang ini jauh lebih baik dibanding masa-masa sebelumnya, padahal dari hasil penelitian kondisi kesehatan berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual individu (Hultsch, Hammer & Small, 1993). Seperti satu hasil penelitian yang menemukan bahwa hipertensi ternyata berkorelasi dengan berkurangnya performance pada tes WAIS pada individu berusia di atas 60 tahun (Wilkie & Eisdorfer, 1971). Semakin tua, semakin banyak masalah kesehatan yang dihadapi (Siegler & Costa, 1985). Jadi beberapa penurunan kemampuan intelektual yang ditemukan pada orang-orang dewasa lanjut sangat mungkin disebabkan oleh factor-faktor yang terkait dengan kesehatan daripada factor usia semata.

Selain fasilitas kesehatan, ternyata gaya hidup individu juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisiknya. Pada satu penelitian ditemukan bahwa ada hubungan antara aktivitas olahraga dengan  kecakapan kognitif pada Subjek  pria dan wanita berusia 55-91 tahun (Clarkson, Smith & Hartley, 1989). Orang-orang yang giat berolahraga memiliki kemampuan penalaran, ingatan dan waktu reaksi lebih baik daripada mereka yang kurang/tidak pernah berolah raga. Penelitian berikutnya (Park, 1992; Stones & Kozman, 1989) menyetujui bahwa olah raga merupakan factor penting untuk meningkatkan fungsi-fungsi kognitif pada orang dewasa lanjut. Yang harus diperhatikan dalam aktivitas berolah raga pada dewasa lanjut ini adalah pemilihan jenis olah raga yang akan dijalani, harus disesuaikan dengan usia Subjek, dalam arti kondisi fisik individu. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten dalam masalah ini.

Perkiraan LANSIA Indonesia dan Negara –negara Asia

ASIA

1950

2000

2025

2050

India

5.6

7.6

12.6

21.3

Pakistan

8.2

4.9

8.2

15.1

China

7.5

10.0

18.5

26.2

Indonesia

6.2

7.4

12.7

21.6

Philippines

5.5

5.7

10.9

18.7

Thailand

4.8

8.7

17.9

28.1

Republic of Korea

5.4

10.5

21.8

28.8

United Nations, 1998


World Health Organization:

1. Long life without continous usefulness, productivity and good quality of life is not a blessing (Usia panjang akan menjadi berkah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat apabila lansia tetap sehat, produktif, dan mandiri)

2. Kategori WHO mengenai mundurnya kemandirian lansia.

Impairment. Kehilangan fungsi psikologik, fisiologik.

Disabiliti. Restriksi/kurang mampu melakukan kegiatan seperti orang normal.

Handicap. Tidak mampu berfungsi secara social berdasar usia, jenis kelamin, social budaya.

Teori Sosial Mengenai Proses Menjadi Tua (Agin)

I. Social Breakdown

  • Struktur masyarakat yang tidak memberikan kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
  • Masyarakat mengembangkan stereotip negative para lansia

II. Social Recontruction

  • Struktur masyarakat yang memberi kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
  • Masyarakat memberi kesempatan pada lansia sebagai bagian yang aktif dan partisipatif dalam masyarakat.

KONSEP LOKAL MENGENAI LANSIA

  1. MASYARAKAT BARAT: SENIOR CITIZEN
  2. MASYARAKAT JAWA
  • Sesepuh
  • Pepundhen
  • Diperlakukan dengan “mikul dhuwur mendhem jero”
  • Cinta Lansia

Jinejer neng wedhatama

mrih tan kemba kembenganing pambudi

mangka nadyan tuwa pikun

yen tan mikani rasa

yekti sepi asepa lir sepah semun

samangsane pakumpulan

gonyak –ganyuk nglelingsem

  1. MASYARAKAT MELAYU

Apa tanda melayu sejati,

Kepada ibu bapa ia berbakti

Apa tanda melayu bertuah,

Terhadap ibu bapa ia amanah

Apa tanda melayu berbudi,

Membela ibu bapa sampai mati

Apa tanda melayu pilihan,

Ibu bapanya ia muliakan

Acuan bagi masyarakat yang dianggap sebagai orang melayu yang patut  adalah:

  1. dll

KEKERASAN PADA LANSIA

Bentuk-bentuk Kekerasan pada LANSIA

  1. Beberapa jenis trauma fisik
  2. Tidak memperoleh kasih sayang
  3. Tidak dihargai
  4. Tidak dibantu pada saat membutuhkan
  5. Tidak memperoleh fasilitas dasar (perumahan dan transportasi)
  6. Diperlakukan secara kasar (verbal)
  7. Diasingkan / diabaikan
  8. Tidak memperoleh cukup makan
  9. Tidak memperoleh pelayanan kesehatan
  10. Mengerjakan pekerjaan rumah yang berat (mengasuh cucu, memasak, membersihkan rumah)
  11. Dianiaya bahakan dibunuh
  12. Menjadi korban kriminalitas

PERSONAL LIFE INVESTIMENT

P

R

I

O

R

T

A

S

TAHAPAN

Dewasa awal (25-34 th)

Dewasa tengah (35-54 th)

Dewasa akhir (55-65 th)

Lanjut Usia     (70-84 th)

Purna Usia      (85-105 th)

Karier

Keluarga

Keluarga

Keluarga

Kesehatan

Sahabat

Karir

Kesehatan

Kesehatan

Keluaarga

Keluarga

Sahabat

Sahabat

Katahanan Kognisi

Makna Hidup

Kemandirian

Ketahanan Kognisi

Ketahanan Kognisi

Sahabat

Ketahanan Kognisi

Baltes Santock ( 1999, hal 541)


PENGARUH PERSONAL LIFE INVESTMENT


  1. MENENTUKAN TUJUAN HIDUP

(Life Goals)

  1. MENGARAHKAN TUJUAN YANG BERMAKNA

(Meaningful Goals)


PERAN:

1.    Peran grandparent menjadi lebih penting.

2.    Masa/lama menjadi grandparent lebih panjang.

3.    Harapan hidup lebih tinggi multigenerational families keluarga dengan beberapa generasi.

4.    Pengalaman hidup sangat menentukan status parent-grandparent.


FUNGSI:

1.    Penghubung masa lampau  – sekarang – akan datang.

2.    Sosok pribadi yang lebih bersedia mendengarkan dan menyediakan waktu lebih banyak.

3.    Penuh perhatian dan selalu siap membantu /menolong.

4.    Bersikap lebih toleran, fleksibel, berwawasan luas.

GAYA:

1.    Formal

ü  Memiliki sikap yang jelas dalam peran parent –grandparent.

ü  Tidak memberikan saran, kritik, atau intervensi kepada anak/menantunya dalam memilih pola asuh.

2.    Fun Seeker

ü  Melakukan aktifitas dengan cucunya hanya dalam hal menyenangkan/bermain.

ü  Tidak mempunyai tujuan untuk mendidik atau melakukan intervensi.

ü  Cucu menganggap grandparent sebagai teman bermain yang menyenangkan.

3.    Distant Figure

ü  Interaksi hanya dilakukan pada peristiwa khusus, misal: Lebaran, Natal, Ulang tahun cucu.

ü  Cucu memandang grandparent sebagai pembawa hadiah pada hari istimewa.

4.    Surrogate Parent

ü  Berperan aktif dalam merawat / mengasuh cucu.

ü  Selalu siap menjadi peran pengganti saat anak / menantu harus meninggalkan anak-anak.

ü  Merasa ikut bertanggung jawab atas perawatan, pengasuhan dan pendidikan cucu-cucunya.

5.    Reservoir Of Family Wisdom

ü  Grandparent sebagai pengendali dan sumber informasi dalam keputusan / kebijakan keluarga.

ü  Tampil sebagai sosok yang kuat, berwibawa, berpengaruh dalam membentuk sikap, watak, nilai yang harus dilestarikan dalam keluarga.

Skema Proses Menjadi Tua

Komponen Pengalaman

Mediator

(kepribadian)

HASIL

1.  Perubahan Biologis

2.  Kejadian penting dalam hidup

3.  Tuntutan dan batasan lingkungan

4.  Keadaan social ekonomi

5.  Keadaan kelembagaan social

1.  Tingkah laku coping

2.   Reaksi emosional terhadap pengalaman

3.  Reaksi fisiologis terhadap pengalaman

4.  Reaksi kognitif terhadap pengalaman

5.  Reaksi spiritual terhadap pengalaman2 hidup.

 

 

Þ             Citra

Lansia/

        Psychological

         Well being

 


TIPE-TIPE  KEPRIBADIAN  LANSIA

1.Kepribadian  Integrated :  adalah mereka yang berfungsi baik, memiliki kehidupan  batin yang kaya, kemampuan kognitif yang baik, dan keadaan ego yang kompeten. Flexibel , matang dan terbuka terhadap stimulus-stimulus baru.  Individu lansia tipe ini memiliki kepuasan hidup yang tinggi/optimum aging. Kepribadian integrated ini digolongkan menjadi 3 berdasarkan pada tingkat aktifitasnya, yakni :

  • Pola Reorganizer ( Tipe A) : lansia integrated yg memiliki aktifitas tinggi, sering disebut optimum agers. Bila mereka terputus dengan aktifits lama, akan mencari aktifitas baru yg menyebabkan mereka merasa bermakna, mis; dlm aktifitas social.
  • Pola Focusd (Tipe B) : lansia integrated yang memiliki kepuasan hdup tinggi, tetapi beberapa peran saja, misal, sbg orang tua, sebagai nenek/kakek, berkebun, memelihara ayam, dll.
  • Pola Disangaged (tipe C) : lansia integrated yang memiliki kepuasan hidup tinggi,  namun aktifitas rendah. Mereka dengan suka rela melepaskan diri dari tanggung jawab mereka. Mereka tetap merupakan golongan yg luas perhatiannya, terbuka menerima pendapat baru, namun mereka memilih sikap hidup santai dalam menjalani usia lanjut.

2.Kepribadian Armored atau Defended.  Dicirikan dengan ambisi tinggi, motif berprestasi tinggi, masih menginginkan prestasi dan kedudukan dalam masyarakat, namun tidak diimbangi dengan kemampuan yang memadai, sehigga penuh defens terhadap kecemasan dan penuh kontrol terhadap  kehidupan emosionalnya. Kepribadian Armored dibedakan menjadi 2 tipe, yakni :

    • Pola Holding On (Tipe D) : menjadi tua menurut tipe ini merupakan ancaman, dan mereka ingin mempertahankan sampai detik terakhir kehidupan mereka. Mereka seringkali berhasil dalam usaha mempertahankan ini, sehingga mendapatkan kepuasan hidup tinggi atau sedang dengan aktifitas tinggi atau sedang. Mereka berkeyakinan bahwa tetap beraktifitas adalah cara untuk melawan proses menjadi tua.
    • Pola Constricted (Tipe E) : Lansia ini sangat sibuk mempertahankan diri terhadap ketuaan dengan cara menghemat energi mereka dan sangat membatasi hubungan sosial mereka melalui penarikan diri dari keterlibatan dalam dunia sosial. Tipe ini memiliki aktivitas rendah dengan kepuasan sedang.

3.Kepribadian Pasive-Dependent. Kepribadian ini dibedakan menjadi

  •  Pola Succorance-Seeking (Tipe F) : Tipe ini memiliki kebutuhan ketergantungan yang tinggi (High Dependensy Needs) dan mengalihkan tanggung jawab pada orang lain. Tipe ini memiliki aktifitas sedang dan kepuasan hidup sedang. Tipe ini ada dalam keadaan senang selama mereka dapat menggantungkan diri pada orang lain.
  •   Pola Apathetic (Tipe G) : Lansia ini dicirikan dengan sikap pasif, aktifitas rendah dan kepuasan hidup rendah pula.  Sering disebut dengan lansia Rocking Chair. Tipe ini mempunyai sikap pasif dan apatis, misalnya, dalam sebuah wawancara seorang laki2 menyuruh istrinya untuk menjawab semua pertanyaan yg ditujukan padanya.  

4.Kepribadian  Unintegrated. Lansia unintegrated mempunyai banyak kemunduran bahkan kerusakan pada fungsi psikisnya, kotrol emosi lemah dan banyak kemunduran dalam fungsi kognitifnya. Mereka menunjukkan pola Disorganized (Tipe H) dalam proses menjadi tua. Mereka dapat mempertahankan hidup di masyarakat, tetapi dengan aktifitas yang rendah dan kepuasan yang rendah pula.

KONSEP USIA

1.Usia Kronologis : Patokan usia seseorang berdasarkan usia kalender.

2.Usia biologis : Usia yang diukur berdasarkan kesehatan jasmani. Usia biologis seseorang bisa  sangat mempengaruhi   keadaan psikisnya.

3.Usia subyektif : Usia yang dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Usia subyektif seringkali mendapat tantangan dari social strereotype (pandangan baku masyarakat)

4.Usia fungsional : Usia yang diukur berdasarkan kemampuan seseorang untuk melakukan fungsi-fungsi tertentu, misalnya; sebagai karyawan, sebagai ibu, penjahit, dll.

5.Usia social : Usia yang ditinjau berdasarkan peran atau kedudukan social yang diberikan kepada seseorang, misalnya sebagai sesepuh.

NB : Berdasarkan konsep-konsep usia di atas, dapat difahami bahwa proses menjadi tua dipengaruhi oleh banyak factor. Memungkinkan terdapat berbagai kombinasi factor yang tidak sama tingkatannya, misalnya : seseorang dengan usia kronologis 80 tahun, usia biologis tinggi (sehat dan kuat), usia subyektif tinggi (merasa muda), usia social dituakan, usia fungsional rendah (kurang baik berfunsi dalam perannya) akan mempunyai citra yang berbeda dibandingkan dengan individu usia 80 tahun, usia biologis rendah, usia fungsional rendah, tetapi usia subyektif tinggi (merasa muda) dan usia social tidak dituakan.